Wednesday, September 22, 2010

“You gave me a lesson about love, I will give you a lesson about the perfect love”


JEANNE GABRIELA JIWANGGI
Itu nama yang ada di daftar no.1 di hati gw sekarang, lepas dari Tuhan Yesus. Mungkin lw pada nanya, kenapa gw taruh dia di no.1? Yang pasti bukan karena dia pasangan hati ato lebih tepat dibilang pacar, tapi jawabannya adalah karena dia seorang ade perempuan yg mengajarkan banyak hal ke gw tentang kasih..
Di alkitab ditulis, kasih adalah hukum pertama dan terutama dalam hidup ini (Mat 22 : 34-40). Kalo kasih aja adalah hukum yang terutama, maka ga salah juga gw sepantesnya anggep orang yang ngajarin tentang kasih adalah orang yang terutama dalam hidup gw..
Nama lengkap gw, Michael Antonius Pelenkahu, terdiri dari 23 huruf. Nama lengkap dia, Jeanne Gabriela Jiwanggi, terdiri dari 22 huruf (catatan:  tanpa memperhatikan spasi). Sebenernya ga ada hubungannya kalo lo liat kedua angka itu dalam konsep matematika. Tapi kalo lo mau coba liat kedua angka itu dalam konsep kasih, kedua angka itu sebenernya punya hubungan yang membawa kepada kesempurnaan.
(catatan: rumus ini hanya terlintas dalam mimpi)
Simpel aja, angka 22 itu membentuk tanda ‘love’ ato bisa kita sebut dengan kasih, jika angka 2 di depan dibalik dan menyatu dengan angka 2 di belakang. Tetapi, kasih itu tidak boleh hanya terus menerus menjadi kasih, kasih itu haruslah sempurna. Untuk menjadikan kasih menjadi sempurna, kasih itu harus terus-menerus diperbaharui, karena kasih itu tidak berkesudahan (1 Kor 13 : 8). Terus menerus diperbaharui disini gw lambangkan dengan +1, karena biasanya jika suatu hal diperbaharui, hal itu pasti lebih dari hal yang terdahulu. Jika dimasukkan dalam sebuah rumus, maka terciptalah sebuah rumus yang membuat gw terkagum-kagum dalam mimpi gw kemaren, rumus ini gw namain “rumus kasih yang sempurna” = {22 + 1 = kasih yang sempurna}. Dengan kata lain, angka 23 adalah lambang dari kasih yang sempurna ato dengan kata lain membentuk kasih yang sempurna. Tetapi, angka itu ga bisa buat kasih itu menjadi sempurna tanpa adanya angka 22. Itu kenapa dia yang namanya Jeanne Gabriela Jiwanggi sangat penting dan ga bisa lepas dari hidup gw.
Dia ga ngajarin kasih dari apa yang dibacanya ato apa yang dia ucapin, tetapi dia ngajarin kasih dari apa yang terjadi dalam hidupnya, yang buat gw menemukan arti dari sebuah kasih yang sempurna.
“Kasih yang sempurna itu sabar, murah hati, ga cemburu, ia ga memegahkan diri dan ga sombong, ia ga melakukan yang ga sopan dan mencari keuntungan sendiri, ia ga pemarah dan ga menyimpan kesalahan orang lain (dendam), ia tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu..” (1 Kor  13 : 4-7)
Dari kata si 1 Kor 13 : 4-7 dan dikaitin sama pengalaman, gw dapet kesimpulan bahwa sebenarnya kasih yang sempurna itu terbentuk jika seseorang mau berbalik dan menyatu dengan yang satunya dan menerima kenyataan bahwa mereka tidak dapat berpisah, karena jika mereka berpisah mereka tidak akan pernah membentuk kasih yang sempurna, seperti angka 22.
Mulai dari sekarang, gw punya kata-kata yang bakal selalu gw inget untuk dia;                   
“You gave me a lesson about love, I will give you a lesson about the perfect love..”

Dear Jeanne Gabriela Jiwanggi.        

No comments:

Post a Comment